Lensantara, Malinau : Haul kedua Panembahan Raja Tuo kembali mempertemukan keluarga besar keturunan Tidung di Masjid Agung Darul Djalal, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan dua tahunan ini menjadi ruang untuk menguatkan ikatan sejarah yang menyatukan berbagai juriat Panembahan.
Panembahan Raja Tuo, bernama asli Muhammad Ali Hanapia, merupakan tokoh besar dalam kepemimpinan Tidung yang memindahkan pusat pemerintahan dari Setiyud menuju Sawang Pangku, lalu ke Alung Malinau.
Ketua Panitia, Topan Amrullah, menyebut penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum bagi generasi muda untuk memahami kembali warisan leluhur.
“Alhamdulillah kita bisa kembali menggelar haul tahun ini, yang kita agendakan setiap tahun ganjil. Ini adalah haul yang kedua, yang pertama kami laksanakan tahun 2023 lalu,” kata Topan.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan tahlil, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta tausiah. Agenda dilanjutkan dengan ziarah ke sejumlah makam tokoh Tidung seperti makam Miring Binti Pangeran Basar, Aji Kuning Ubang, Panembahan Raja Pandita, Aji Kaharudin, dan Aji Rindu.
Pemerintah Kabupaten Malinau juga hadir memberikan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi budaya tersebut. Wakil Bupati Malinau, Jakaria, menilai haul merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Tidung dan perlu dijaga keberlanjutannya.
“Ini penting sekali menurut pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali budaya, karena haul ini merupakan tradisi masyarakat muslim di Kabupaten Malinau untuk mengenang para leluhur,” ujarnya.
Jakaria menambahkan bahwa tradisi haul mencerminkan bagaimana nilai sejarah masih dirawat oleh masyarakat hingga kini. Pemerintah daerah juga berharap kegiatan tersebut terus menjadi ajang silaturrahmi.
Warisan kepemimpinan Panembahan Raja Tuo tetap menjadi fondasi kuat dalam perjalanan sejarah masyarakat Tidung. Raja Tuo juga dikenal sebagai pemersatu sejumlah suku di Malinau.






