Lensantara, Malinau : Sejarah Malinau Kota memiliki keterkaitan yang kuat dengan perjalanan panjang Kerajaan Tidung Panembahan. Salah satu tokoh sentral dalam perkembangan wilayah tersebut adalah Muhammad Ali Hanapia, bangsawan Berau yang kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Raja Tua.
Asal-Usul Muhammad Ali Hanapia dan Pengangkatan sebagai Raja
Muhammad Ali Hanapia merupakan putra Abdullah, bangsawan Berau bergelar Pangeran Raja Muda, dan ibunya bernama Ikes. Kedudukan keluarga ini memberi pengaruh besar dalam hubungan antarsuku dan perkembangan wilayah yang kini menjadi Malinau.
Setelah menikahi Aji Ratu, putri kedua Raja Tidung Panembahan ke-XI Aji Hasan (Panembahan Alimuddin Hasan Pemesakan), ia kemudian ditetapkan sebagai penerus tahta. Keputusan tersebut diambil melalui musyawarah para bangsawan karena Raja sebelumnya tidak memiliki keturunan laki-laki. Sejak itu, ia dianugerahi gelar Panembahan Raja Tua.
Pemindahan Pusat Pemerintahan Kerajaan Tidung
Pada masa kekuasaannya, Panembahan Raja Tua beberapa kali memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Tidung sebagai bagian dari strategi memperluas dan memperkuat wilayah kekuasaan. Awalnya, pusat kerajaan berada di Setiyud, kemudian berpindah ke Sawang Pangku atau Kuala Bengalun.
Pada 1189 Hijriyah / 1776 Masehi, pusat kerajaan kembali dipindahkan ke Alung Malinau (Kuala Malinau). Jejak historis kepindahan ini diperkuat oleh makam Putri Miring, kerabat keluarga kerajaan, yang wafat pada 1192 Hijriyah / 1778 Masehi dan dimakamkan di bukit yang kini masuk wilayah Desa Wisata Pulau Sapi.
Perjanjian Adat Sebila dan Penetapan Wilayah Suku-Suku
Dalam upaya menyatukan wilayah kekuasaan, Panembahan Raja Tua menetapkan Perjanjian Adat Sebila, sebuah kesepakatan antar kepala suku yang disimbolkan melalui ritual mengisap darah bergantian sebagai bentuk ikatan persaudaraan.
Melalui perjanjian ini, para kepala suku diberikan hak tinggal di wilayahnya masing-masing dengan jaminan keselamatan dari kerajaan. Beberapa yang tercatat antara lain:
Ibung Alang, Kepala Adat Suku Merap, yang berpindah dari Hulu Bahau ke Tanah Buah dan kemudian menetap dari Langap hingga muara Gong Sulok.
Lakai, Kepala Adat Suku Abay, yang berpindah dari Labaten ke Semawo dan menetap di Long Gita.
Impagas, tokoh Suku Abay yang menempati wilayah Sebatiung di Sungai Sembuak.
Ikatan persaudaraan semakin diperkuat melalui pertemuan adat di Semamu yang menghasilkan hubungan perkawinan antara keluarga Panembahan Raja Tua dan keluarga Abay di Temalang.
Keturunan Panembahan Raja Tua dan Suksesi Kerajaan
Panembahan Raja Tua memiliki tujuh anak:
Aji Kuning (Ubang), Aji Muhammad Sapu, Aji Kaharudin (Keritan), Aji Rindu, Aji Kesuma, Aji Taruna (Lamud), dan Aji Bini (Ikes).
Kepemimpinan kerajaan kemudian dilanjutkan oleh putra keduanya, Aji Muhammad Sapu, yang dinobatkan pada 1269 Hijriyah / 1853 Masehi dengan gelar Panembahan Raja Pandita.
Panembahan Raja Tua wafat pada 12 Rajab 1273 Hijriyah / 9 Maret 1857 dan dimakamkan di bukit yang kini masuk wilayah Desa Mentarang Baru.
Intervensi Kolonial dan Perubahan Pusat Pemerintahan
Pada masa Panembahan Raja Pandita, pusat pemerintahan dipindahkan ke Alung Kabiran pada 1893. Namun tiga tahun kemudian, pada 1896, ia ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Jepara hingga Kepulauan Seribu karena menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.
Setelah pengasingan tersebut, para bangsawan mengangkat Aji Syahabudin, putra dari Aji Kuning (Ubang), sebagai raja bergelar Panembahan Aji Kuning.
Lahirnya Nama Malinau Kota dari Pagun Sebamben
Di masa kepemimpinan Panembahan Aji Kuning, pusat pemerintahan dipindahkan ke Pagun Sebamben, sebuah wilayah yang awalnya dibuka sebagai ladang sebelum berkembang menjadi kampung yang tertata.
Pada 1901, pola permukiman diatur ulang menjadi satu rumah untuk satu keluarga. Pada 1910, pembangunan kawasan diperkuat melalui pelebaran jalan, pembuatan parit, dan pemasangan siring ulin, membuat Pagun Sebamben semakin menyerupai kota.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap pusat pemerintahan lama di Kuala Malinau, Panembahan Aji Kuning kemudian menamai wilayah tersebut sebagai Malinau Kota. Nama ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat sebagaimana dikenal saat ini.
Catatan Penulis
Catatan sejarah mengenai perjalanan Panembahan Raja Tua serta perkembangan awal Malinau ini disampaikan oleh Keluarga Besar Panembahan dalam rangkaian kegiatan Haul Kedua Keluarga Besar Panembahan Raja Tua di Masjid Agung Darul Djalal Malinau pada Jumat (21/11/2025).
Informasi ini dirangkum dari materi selayang pandang keluarga besar panembahan yang dipresentasikan dalam kegiatan tersebut.






