Lensantara.com, Malinau – Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Malinau merilis laporan perbandingan kejadian kebakaran dan kegiatan penyelamatan sepanjang 2024 dan 2025. Data ini menjadi bahan evaluasi kinerja, peningkatan kesiapsiagaan, serta perencanaan pelayanan kebencanaan ke depan.
Pada sektor kebakaran, jumlah kejadian sepanjang 2025 tercatat sebanyak 16 kasus, meningkat satu kejadian atau sekitar 6,7 persen dibandingkan 2024 yang berjumlah 15 kasus. Meski terjadi kenaikan jumlah kejadian, dampak kerugian secara umum justru cenderung menurun.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Damkar dan Penyelamatan Kabupaten Malinau, Rury Ahmad Sururie, menjelaskan bahwa penurunan dampak kerugian dipengaruhi oleh semakin cepatnya laporan masyarakat dan peningkatan waktu respons petugas.
“Peran masyarakat dalam melaporkan kejadian semakin baik, sehingga petugas bisa tiba lebih cepat dan api dapat dikendalikan sejak awal,” ujarnya, Selasa (13/1/2025).
Rury menambahkan, sebagian besar kebakaran pada 2025 tidak sampai menghanguskan seluruh bangunan. “Banyak kasus hanya berdampak pada sebagian area bangunan, tidak seperti kejadian-kejadian besar di tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Namun demikian, laporan juga mencatat satu kebakaran besar pada 2025 di kawasan pasar kuliner yang mengakibatkan kerugian materiil signifikan. Dalam peristiwa tersebut terdapat satu korban jiwa.
Rury menyebut kejadian itu menjadi perhatian khusus pihaknya. “Kasus di pasar kuliner menjadi evaluasi serius bagi kami, terutama dalam aspek pencegahan dan pengawasan ke depan,” ucapnya.
Penyebab kebakaran pada 2025 didominasi oleh korsleting listrik sebesar 75 persen. Selanjutnya, 15 persen disebabkan kelalaian penggunaan kompor, sementara 20 persen lainnya berasal dari faktor lain, termasuk kelalaian umum dan persoalan teknis.
Sebagai perbandingan, pada tahun Pada 2024, mayoritas insiden kebakaran juga dipicu oleh gangguan instalasi listrik. Data Sekitar 85 persen kebakaran disebabkan hubungan arus pendek listrik, sementara 10 persen berasal dari kelalaian penggunaan kompor atau tabung gas.
Adapun 5 persen sisanya dipicu oleh penyebab lain, termasuk faktor teknis dan kelalaian umum. “Ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat tentang keselamatan listrik dan penggunaan peralatan rumah tangga,” katanya.
Selain penanganan kebakaran, Damkar Malinau juga mencatat berbagai kegiatan penyelamatan dan perbantuan. Untuk Operasi Tangkap Tawon (OTT) dan tangkap ular, jumlah perbantuan pada 2025 tidak mengalami peningkatan dibandingkan 2024, tetap sebanyak 48 kejadian.
Sebaliknya, sejumlah jenis perbantuan lain menunjukkan peningkatan signifikan pada 2025. Di antaranya perbantuan membuka cincin, penanganan kecelakaan lalu lintas seperti kendaraan masuk got, serta perbantuan kemanusiaan.
Perbantuan kemanusiaan meliputi penyemprotan pascabanjir, pembersihan jalan licin akibat timbunan tanah, dan berbagai bentuk bantuan lainnya. Secara keseluruhan, total perbantuan non-kebakaran pada 2025 mencapai 121 kegiatan.
Rury menyebut angka tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan layanan penyelamatan di masyarakat. “Tugas Damkar tidak hanya kebakaran, tetapi juga banyak perbantuan kemanusiaan dan penyelamatan lainnya yang terus meningkat setiap tahun,” katanya.






