‎Angkut Jenazah Lewati Giram, Potret Akses Sulit Pedalaman Malinau

Giram Nta Liang
Warga pedalaman Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, bahu-membahu mengangkut jelah di kawasan Giram Nta Liang Sungai Bahau, Sabtu (31/1/2026).Foto: Yonatan T/Mln

Lensantara.com, Malinau – Sebuah video yang beredar di platform media sosial Facebook memperlihatkan warga pedalaman Kabupaten Malinau bahu-membahu mengangkut jenazah menggunakan perahu ketinting bermesin lima PK di jalur Sungai Bahau. Jalur sungai menjadi satu-satunya akses transportasi penghubung wilayah tersebut dengan daerah lain.

‎Peristiwa ini terjadi saat jenazah dibawa dari Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan menuju Desa Long Pujungan, Kecamatan Pujungan melewati jalur sungai dengan medan giram. Giram Baru atau giram Nta Liang, dikenal dengan arusnya yang deras, sehingga perahu ketinting yang lewat harus melansir muatan untung mengurangi resiko bahaya.

‎Dalam video yang diunggah oleh konten kreator Roni Manan, terlihat jenazah harus dipikul warga dari bawah Giram Baru menyusuri tepi sungai, sebelum kembali dimasukkan ke dalam perahu di bagian hulu giram. Kondisi tersebut menggambarkan beratnya akses transportasi yang masih dihadapi masyarakat pedalaman Malinau.

‎Roni Manan menyampaikan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 31 Januari 2026. “Ini video masyarakat sedang membawa jenazah pulang ke desa, dari Tanjung Selor menuju Desa Long Pujungan. Jenazah meninggal di sana habis berobat,” ujar Roni saat dikonfirmasi media ini, Minggu (1/2/2026).

‎Menurut Roni, kejadian tersebut bukanlah peristiwa baru bagi warga pedalaman, melainkan bagian dari realitas sehari-hari yang harus mereka hadapi. Jalur sungai dengan perahu ketinting menjadi tumpuan utama mobilitas warga, mulai dari membawa kebutuhan pokok, BBM, berobat, hingga aktivitas sosial lainnya.

‎Ia juga menuturkan bahwa kawasan Jeram Baru kerap menjadi titik rawan kecelakaan. Beberapa kali terjadi kecelakaan di lokasi tersebut, seperti perahu terbalik, karam dan kejadian lain.

‎Meski sudah ada upaya dari pemerintah daerah setempat dengan penanganan giram melalui peledakan, risikonya masih tetap ada. Video tersebut kembali memantik perhatian publik terhadap persoalan akses transportasi di wilayah pedalaman Kabupaten Malinau.

‎Warga berharap adanya solusi jangka panjang yang lebih aman agar aktivitas sehari-hari, termasuk dalam situasi darurat seperti pengantaran jenazah, tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *