Keunggulan dan Karakter Padi Ulin sebagai Varietas Khas Malinau

Padi Ulin.
Padi Ulin sebagai salah satu varietas padi khas Malinau.

‎Lensantara.com: Padi Ulin dikenal sebagai salah satu varietas padi lokal yang telah lama dibudidayakan masyarakat di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Varietas ini mulai dikenal sejak 1990 dan termasuk dalam jenis padi golongan cere (indika).

‎Bagi masyarakat setempat, Padi Ulin juga menjadi bagian dari warisan budaya. Tanaman Padi Ulin tumbuh dengan tinggi sekitar 120 hingga 150 sentimeter, dengan batang yang kokoh berwarna hijau kekuningan.

‎Daunnya tampak hijau muda pada bagian bawah. Umur tanam varietas ini berada pada kisaran 150 hingga 180 hari setelah semai, di mana setiap rumpun dapat menghasilkan antara 12 hingga 17 anakan produktif.

‎Gabah Padi Ulin berwarna kuning keemasan dengan rata-rata berat 1.000 butir mencapai 31,7 gram. Dalam satu malai, varietas ini memiliki potensi menghasilkan sekitar 276 butir gabah.

‎Produktivitasnya diperkirakan mencapai 5 hingga 6 ton per hektare, dengan cita rasa beras yang pulen dan beraroma khas. Padi ini umumnya dibudidayakan secara turun-temurun di beberapa wilayah seperti Pulau Sapi, Sempayang, Sesua, dan Gongsoslok.

‎Karakter adaptifnya membuat Padi Ulin mampu tumbuh baik di lahan marginal dan memiliki toleransi cukup terhadap serangan hama. Hal ini menjadi salah satu alasan varietas ini tetap dipertahankan masyarakat.

‎Meski demikian, Padi Ulin masih memiliki tantangan, terutama terkait umur panen yang relatif panjang serta hasil yang belum setinggi varietas unggul modern. Namun, keberadaannya tetap memiliki nilai strategis.

‎Selain penting bagi ketahanan pangan lokal, Padi Ulin juga berpotensi dikembangkan sebagai beras organik, komoditas premium, serta pendukung wisata pertanian berbasis kearifan lokal.


‎Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Malinau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *