Padi Ula, Benih Lokal yang Terus Dijaga Petani Malinau

Padi Ula Malinau
Padi Ula Malinau.

Lensantara, Malinau: Padi Ula menjadi salah satu varietas padi lokal yang masih dipertahankan petani di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Varietas ini telah dibudidayakan sejak tahun 1990 dan berkembang di berbagai desa sebagai bagian dari kekayaan pertanian tradisional masyarakat.

‎Padi Ula Malinau juga dikenal sebagai sumber pangan lokal yang terus dijaga kualitasnya. Budidaya Padi Ula tersebar di sejumlah desa, seperti Agung Baru, Data Baru, Dumu Mahak, Long Lebusan, Long Top, Mahak Baru, Tanjung Keranjangan, dan Setulang.

‎Padi ini memiliki tinggi tanaman sekitar 125–150 sentimeter, batang berwarna hijau kekuningan, serta menghasilkan 25–30 anakan dalam satu rumpun. Padi Ula menghasilkan 248–300 butir gabah per malai dengan bobot 1.000 butir mencapai sekitar 31,7 gram.

‎Produktivitas rata-rata berada di kisaran 5 ton per hektare. Berasnya berwarna putih dan pulen, meskipun umur tanamnya lebih panjang dibandingkan varietas unggul modern.

‎Keunggulan Padi Ula Malinau terletak pada ketahanan tanaman serta kemampuannya beradaptasi dengan kondisi lahan petani. Stabilitas pertumbuhan dan daya tahan terhadap lingkungan membuat varietas ini tetap dipilih sebagai alternatif sumber pangan, khususnya bagi desa-desa yang masih mempertahankan pola pertanian tradisional.

‎Potensi pengembangan Padi Ula masih terbuka lebar, mulai dari pemanfaatan dalam ketahanan pangan desa hingga pelestarian plasma nutfah daerah. Pemerintah daerah juga terus mendorong masyarakat agar varietas lokal ini tetap dikembangkan secara berkelanjutan melalui berbagai program pendampingan dan promosi pangan lokal.

‎Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Malinau

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *