Didominasi LSL, Tercatat 160 Pasien HIV Aktif di Malinau

Gambar sebagai ilustrasi.Foto: Pexels.

Lensantara.com, Malinau – Sebanyak 160 pasien HIV tercatat aktif menjalani pengobatan di Kabupaten Malinau. Kelompok laki-laki suka laki-laki (LSL) menjadi yang paling dominan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Malinau, Jonlayri, menyebutkan dari 160 pasien yang rutin berobat, 43 di antaranya berasal dari kelompok LSL.

“Dari yang sekarang menjalani pengobatan di Malinau ada 160 orang, 43 dari kelompok LSL, empat waria dan delapan ibu hamil yang juga terkonfirmasi HIV. Selain itu, ada tiga pasien dengan kasus TB HIV, dan 21 pasien merupakan pasangan orang dengan HIV,” ujar Jonlayri.

Sisanya berasal dari populasi umum, seperti pekerja kantoran, TNI, Polri, serta kelompok masyarakat lainnya. Jika dirinci, jumlahnya terlihat cukup besar, namun bila dihitung per kelompok, LSL masih mendominasi.

Secara akumulatif, kasus HIV di Malinau sejak tahun-tahun sebelumnya hingga saat ini mencapai 269 kasus. Sebagian tercatat meninggal dunia, sementara 12 kasus baru ditemukan pada tahun 2025.

“Saya ingin menggarisbawahi kasus dengan TB HIV tadi. Jadi, pasien tersebut awalnya terdiagnosis tuberkulosis, kemudian setelah pemeriksaan lanjutan darah dan dahak diketahui juga mengidap HIV,” terangnya.

Sedangkan pasien pasangan orang dengan HIV, umumnya penularan terjadi dari suami ke istri. “Nah, ini ada yang sudah meninggal dunia pasangannya,” kata Jonlayri.

Ia menambahkan, tidak semua pasien HIV yang aktif berobat tinggal di Malinau. Sebagian berdomisili di daerah sekitar Malinau, namun terdeteksi saat pemeriksaan di RSUD Malinau dan kemudian mengambil obat di daerah ini.

“Sistem data HIV ini sudah terintegrasi di seluruh puskesmas, sehingga pasien bisa mengambil obat di fasilitas kesehatan mana pun yang tersedia, tanpa biaya,” ucapnya.

Terkait pencegahan, Jonlayri mengingatkan masyarakat agar menghindari hubungan seksual berisiko, tidak berganti-ganti pasangan, menggunakan kondom, serta tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, termasuk untuk narkoba, tato, dan tindik.

“Penularan juga bisa terjadi lewat darah yang terkontaminasi dan dari ibu ke bayi. Karena itu pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi ibu hamil, sangat penting,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *