Lensantara.com, Malinau – Bagi masyarakat Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan berbagai kegiatan peringatan.
Di balik perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masih tersimpan harapan lama agar pembangunan benar-benar menjangkau wilayah mereka, terutama melalui pembukaan akses jalan darat.
Kepala Desa Long Sule, Jarod Irei mengatakan, hingga kini wilayah tersebut belum memiliki akses jalan darat yang menghubungkan desa dengan pusat pemerintahan maupun jalur distribusi.
Kondisi itu membuat mobilitas warga sekaligus pemenuhan kebutuhan sehari-hari masih sangat bergantung pada transportasi udara.
“Harapan kami ke depannya akses jalan bisa ada, bisa tembus ke sini. Karena itu satu-satunya harapan kami di Desa Long Sule untuk mendatangkan sembako dan kebutuhan lainnya,” kata Jarod pada media ini usai mengikuti upacara HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026).
Menurut Jarod, persoalan tersebut bukan baru dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Harapan terhadap terbukanya akses darat telah disampaikan masyarakat selama lebih dari satu dekade.
Keterisolasian wilayah juga berdampak pada akses masyarakat terhadap pelayanan pemerintahan. Warga Long Sule dan Desa Long Pipa, yang berada berdekatan secara geografis, selama ini tidak dapat dengan mudah mendatangi ibu kota Kecamatan Kayan Hilir di Data Dian.
Untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, pemerintah kecamatan telah membuka kantor perwakilan di Desa Long Pipa. Keberadaan kantor tersebut menjadi salah satu solusi bagi warga yang membutuhkan pelayanan administrasi maupun urusan pemerintahan lainnya.
“Untuk urusan di kecamatan, kami langsung di kantor perwakilan di sini, karena akses kami ke kecamatan memang tidak ada. Akses darat tidak ada, penerbangan pun tidak ada,” ujar Jarod.
Ia menjelaskan, ketika harus menuju Data Dian, warga bahkan harus mengambil rute memutar melalui Malinau sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke ibu kota Kecamatan Kayan Hilir.
“Kalau misalnya kami mau ke ibu kota kecamatan, kami harus putar dulu ke Malinau, baru ada rute lagi ke Data Dian,” katanya.
Long Sule dan Long Pipa sendiri memiliki hubungan geografis yang sangat dekat. Kedua desa seolah terbagi oleh bentangan sungai, sementara berbagai layanan seperti pendidikan dan pemerintahan banyak berpusat di Long Pipa.
Dua jembatan yang dibangun dan selesai pada 2025 memang telah memperkuat konektivitas antara kedua desa. Namun, bagi masyarakat, keberadaan jembatan tersebut belum menjawab kebutuhan yang lebih besar, yakni tersedianya akses jalan darat yang dapat menghubungkan kawasan itu dengan wilayah lain.
Kebutuhan terhadap jalan semakin terasa karena menyangkut distribusi barang kebutuhan pokok. Selama belum tersedia akses darat, pengiriman sembako dan berbagai kebutuhan masyarakat masih sangat bergantung pada penerbangan.
Kondisi serupa terjadi pada distribusi bahan bakar minyak atau BBM. Pasokan ke Long Sule belum dapat berlangsung secara rutin karena mengikuti jadwal penerbangan yang juga menghadapi berbagai kendala.
Jarod mengatakan, dalam kondisi normal, BBM biasanya masuk sekitar dua kali dalam sebulan. Namun, waktu kedatangannya tidak dapat dipastikan.
“Normalnya biasanya dua kali sebulan, tetapi jadwalnya tidak tentu juga, karena jadwal pesawat juga terkendala,” ujarnya.
Kondisi tersebut kembali berdampak pada ketersediaan BBM di tingkat masyarakat. Setelah sebelumnya mengalami kelangkaan selama lebih dari sebulan, pasokan terakhir yang diterima warga pada pekan sebelumnya kini kembali habis.
“Yang terakhir masuk hari Selasa kemarin, sampai sekarang belum masuk lagi,” kata Jarod.
Keterbatasan pasokan turut memengaruhi harga. BBM yang sebelumnya berada di kisaran Rp58.000 per liter kini mencapai Rp62.000 per liter.
Selain harga yang tinggi, jumlah yang dapat diperoleh warga juga dibatasi, maksimal lima liter untuk setiap kepala keluarga dalam satu kali pengantaran.
Masyarakat kini kembali mencemaskan kemungkinan terulangnya krisis BBM apabila pasokan tidak segera masuk. “Kalau sampai satu bulan tidak masuk, akan terjadi krisis lagi. Itu yang kami khawatirkan, krisis BBM,” ujarnya.
Bagi Jarod, persoalan akses bukan sekadar menyangkut kemudahan perjalanan. Jalan darat dinilai akan membawa dampak lebih luas terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari distribusi kebutuhan pokok, BBM, pendidikan, pelayanan pemerintahan hingga aktivitas ekonomi.
Karena itu, harapan terhadap pembangunan akses darat kembali disampaikan di momentum peringatan kemerdekaan tahun ini. Masyarakat Long Sule ingin kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai peringatan sejarah, tetapi juga hadir dalam bentuk pembangunan yang dapat dirasakan langsung.
Meski tinggal di wilayah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, Jarod memastikan kondisi tersebut tidak mengurangi rasa kebangsaan masyarakat. Keterpencilan wilayah, menurutnya, tidak pernah mengubah kecintaan warga terhadap Indonesia.
“Meski secara ekonomi kami masih menghadapi banyak keterbatasan, hati kami tetap untuk NKRI,” tegasnya.
Semangat itu terlihat dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini. Warga Long Sule bersama masyarakat Desa Long Pipa mengikuti upacara bersama di lapangan terbuka kantor perwakilan Kecamatan Kayan Hilir di Long Pipa.
Dari wilayah pedalaman yang masih menanti terbukanya akses darat, perayaan kemerdekaan menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menyampaikan harapan.
Mereka ingin pembangunan membuka keterisolasian, sekaligus memastikan kebutuhan dasar, pelayanan publik dan aktivitas ekonomi dapat dijangkau dengan lebih mudah.
