Ritual Sambut Tamu Dayak Sa’ban, Leeno’ Alin Waan Taman Raah

Tarian perang dalam ritual adat leeno' alin waan taman raah Dayak Sa'ban.
Tarian perang dalam ritual adat leeno' alin waan taman raah Dayak Sa'ban.FOTO: LENSANTARA.COM

Lensantara.com, Malinau – Masyarakat Dayak Sa’ban memiliki prosesi adat leeno’ alin waan taman raah, yakni ritual untuk membersihkan jalan bagi kedatangan tamu besar. Menurut kepercayaan setempat, tradisi ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa keselamatan bagi tamu yang berkunjung.

Ketua Lembaga Adat Sa’ban Kabupaten Malinau, Johnson Pawang, menjelaskan bahwa prosesi ini telah dilakukan sejak masa lalu ketika pemimpin suatu kelompok berkunjung ke wilayah kelompok lainnya.

Bacaan Lainnya

“Dulu di zaman dulu kan ada pemimpin-pemimpin kelompok masing-masing. Kalau datang berkunjung ke daerah lain, prosesi yang dilakukan biasanya dalam rangka kita menghormati seorang pemimpin besar,” ujar Johnson.

Setiap elemen dalam leeno’ alin waan taman raah memiliki makna tersendiri, mulai dari doa sebagai pengharapan keselamatan, percikan air sebagai simbol pembersihan jalan, hingga tarian dan perlengkapan perang yang melambangkan sukacita sekaligus pengamanan.

Dalam pelaksanaannya, para tokoh dan tetua adat Dayak Sa’ban akan berdiri menyambut kedatangan tamu dengan mengenakan pakaian tradisional. Penyambutan diawali dengan lantunan doa dan pengharapan keselamatan dalam bahasa Sa’ban.

Setelah doa dipanjatkan, salah satu tetua adat mengambil air dari sebuah wadah menggunakan daun pandan atau lontar, kemudian memercikkannya ke arah tamu yang datang. Barulah tamu dipersilakan melanjutkan perjalanan, diiringi tarian perang yang menjadi bagian penutup prosesi.

Johnson menegaskan, tarian dan perlengkapan perang dalam ritual ini bukan simbol permusuhan. Sebaliknya, keduanya menggambarkan ungkapan sukacita sekaligus fungsi pengamanan bagi tamu yang hadir.

“Tarian itu menandakan sukacita. Kalau pedang-pedang itu artinya bukan untuk berperang. Gambaran berperang, tapi ini sebagai pengaman,” jelasnya.

Sementara itu, percikan air yang menjadi inti dari ritual memiliki makna khusus sebagai pembersih jalan yang akan dilalui tamu. Makna tersebut berkaitan erat dengan harapan keselamatan selama tamu berada di wilayah Sa’ban.

“Makna air itu membersihkan jalan tamu yang datang ke daerah kita, supaya aman,” katanya.

Tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Sa’ban pada masa lampau dalam menyambut kedatangan pemimpin dari kelompok lain. Hingga kini, prosesi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari penghormatan terhadap tamu penting sekaligus pemeliharaan adat istiadat Dayak Sa’ban di Kabupaten Malinau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *