Lensantara, Malinau : Ribuan warga dibuat terkesima dengan atraksi budaya perjodohan adat Tidung yang ditampilkan Lembaga Adat Besar Tidung pada Festival Irau ke-11 dan perayaan HUT ke-26 Kabupaten Malinau, Kamis (9/10/2025).
Prosesi ini menampilkan tahapan Beseruan hingga Ngatode De Pulut yang selama ini menjadi tradisi sakral dalam adat Tidung. Atraksi diawali dengan Beseruan, yaitu kedatangan pihak keluarga laki-laki ke rumah calon mempelai perempuan untuk memastikan status gadis yang hendak dipinang.
Tahapan ini sarat makna karena menjadi pintu awal dalam menentukan kelanjutan proses perjodohan adat. Camat Malinau Kota, Muhammad Yusuf, yang sutradara atraksi, menjelaskan bahwa setiap tahap mengikuti pakem adat.
“Dalam Beseruan, keluarga laki-laki menanyakan apakah benar ada anak gadis, apakah masih perawan atau janda, dan apakah sudah ada yang memiliki,” ujarnya. Setelah jawaban diperoleh, prosesi berlanjut dengan lamaran resmi.
Pada tahap ini, kedua keluarga membicarakan belanja adat berupa uang maupun barang. Kesepakatan kemudian diwujudkan dalam prosesi Ngatode De Pulut, yakni penyerahan barang dan seserahan yang dijajarkan lalu diperkenalkan satu per satu.
Suasana atraksi kian meriah ketika pantun adat dibacakan bergantian oleh kedua pihak. Ada pantun berisi nasihat untuk membina rumah tangga yang harmonis, ada pula pantun jenaka yang memancing tawa penonton.
“Pantun ini menjadi hiburan, juga media penyampaian pesan moral kepada generasi muda,” tambah Yusuf. Melalui kemasan artistik di panggung Irau, perjodohan adat Tidung menjadi tontonan dan sarana edukasi bagi masyarakat.






