Lensantara.com, Malinau – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) melanda Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, mendorong harga naik signifikan. Warga kini hanya mendapat jatah lima liter BBM untuk setiap kepala keluarga (KK).
Kepala Desa Long Sule Jarod Irei mengatakan harga BBM naik dari sekitar Rp58 ribu menjadi Rp62 ribu per liter. Kenaikan ini terjadi setelah hampir sebulan tidak ada pesawat pengangkut BBM yang masuk ke wilayahnya.
“Kurang lebih sebulan tidak ada pesawat yang mengangkut BBM. Sampai sekarang langka BBM dan itu pun ada kenaikan harga juga. Dari Rp58.000 naik jadi Rp62.000 satu liternya,” ujar Jarod pada media ini, Rabu (12/8/2026).
Pasokan BBM ke Long Sule selama ini bergantung pada jalur udara menggunakan pesawat perintis. BBM diangkut lewat darat dari Samarinda menuju Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Dari Long Bagun, BBM diteruskan ke Desa Mahak Baru, Kecamatan Sungai Boh, Kabupaten Malinau, sebelum diangkut pesawat menuju Long Sule. Rute panjang lintas provinsi ini membuat pasokan rawan tersendat baik di jalur darat maupun udara.
Setelah nyaris sebulan tanpa penerbangan, pasokan baru kembali masuk pada Selasa (11/8/2026). Jarod menyebut jatah lima liter per KK tersebut diperoleh warga setelah mengantre seharian penuh.
“Kuotanya itu lima liter per KK. Itu satu trip masuk, satu kali pesawat masuk, itu pun mengantre kami, kemaren kami mengantre seharian untuk mendapatkan BBM,” katanya.
Menurut Jarod, waktu kedatangan pasokan tidak menentu dan keterlambatan seperti ini kerap terjadi. Ia khawatir kenaikan harga BBM turut mendorong naiknya harga kebutuhan pokok, meski hingga kini belum ada lonjakan signifikan.
“Biasanya akan naik nanti bahan pokok lainnya. Tapi sekarang belum naik, karena baru kemarin masuk minyaknya,” ujarnya. Ia menambahkan, BBM sangat vital bagi warga Long Sule yang mayoritas berprofesi sebagai petani, mulai dari kebutuhan berladang hingga aktivitas sehari-hari.
Jarod berharap pemerintah memperbaiki akses jalan darat sekaligus menambah kapasitas penerbangan logistik dari Mahak Baru menuju Long Sule. “Harapannya semoga pemerintah bisa memperbaiki akses jalan darat dan dari pesawat juga bisa ditambah kuotanya dari Mahak Baru ke Long Sule, terutama penerbangan Kodiak ini,” pungkasnya.
Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Malinau Erly Sumiati membenarkan adanya kendala distribusi BBM di sejumlah wilayah pedalaman, khususnya kawasan Apau Kayan. Ia menyebut kendala utama berasal dari kerusakan jalan di jalur Long Bagun.
“Di wilayah Apau Kayan memang terkendala. Di daerah Long Bagun itu jalannya rusak, sehingga di situ agak tersendat. Tapi Sungai Boh sudah mulai lancar,” jelasnya.






