Lensantara, Malinau : Penyelenggaraan Festival Budaya Irau ke-11 dan HUT ke-26 Kabupaten Malinau tidak hanya dimaknai sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai pemicu perputaran ekonomi masyarakat. Lonjakan wisatawan yang datang diproyeksikan memberi dampak signifikan bagi usaha kecil dan menengah.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau, Kristian, menegaskan bahwa setiap tamu yang hadir diharapkan tidak sekadar menyaksikan atraksi seni dan budaya. “Kita berharap mereka juga membelanjakan uangnya di Malinau, baik lewat kuliner, maupun pembelian souvenir, dan produk UMKM lainnya,” jelasnya.
Sektor kuliner hingga produk kerajinan lokal disebut menjadi penopang utama transaksi ekonomi selama festival berlangsung. Bahkan, tingkat hunian hotel kerap penuh karena kapasitas yang sudah maksimal menghadapi gelombang pengunjung.
Menurut Kristian, efek domino dari belanja wisatawan akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari pedagang makanan, penjual batik, hingga penyedia jasa transportasi lokal berpotensi memperoleh keuntungan dari ramainya perputaran uang.
Survei perputaran uang yang dilakukan panitia dengan menggandeng Badan Pusat Statistik, sebelum atau masa persiapan Irau mencatat perputaran uang hingga Rp14 miliar. Sektor yang banyak bergerak adalah usaha makan-minum, aksesoris, dan batik daerah.
Harapan, festival yang berlangsung 20 hari, sejak 7 Oktober ini benar-benar menjadi pesta rakyat yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyejahterakan. “Harapan kita kegiatan ini menimbulkan efek ekonomi yang luas bagi masyarakat Malinau,” pungkasnya.
Irau Diproyeksikan Dorong Belanja Langsung Wisatawan di Malinau






