Menilik Keunggulan Padi Abai, Komoditas Andalan Petani Malinau

Padi Langsat.
Padi Langsat. (Foto : Dinas Pertanian Kabupaten Malinau).

Lensantara.com : Padi Abai dikenal sebagai varietas padi lokal unggulan dari Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Sejak lama, jenis padi ini menjadi sumber pangan bagi masyarakat di sejumlah desa seperti Malinau Seberang, Sempayang, Sesua, Setulang, Lidung Kemenci, Pulau Sapi, dan Tanjung Lapang.

‎Keberadaannya juga memiliki makna budaya sebagai identitas pertanian daerah. Varietas ini tergolong padi cere atau indika dengan ciri khas umur tanam yang relatif singkat, sekitar 90 hingga 95 hari setelah tanam.

‎Tanamannya tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 155 sentimeter, batang berwarna hijau kekuningan, serta daun yang bervariasi dari hijau muda hingga hijau tua. Pada setiap rumpun, rata-rata terdapat 21 anakan dengan sekitar 315 gabah per malai.

‎Secara produktivitas, Padi Abai mampu menghasilkan sekitar 6 ton gabah per hektare dan berpotensi mencapai 6,6 ton per hektare. Gabahnya berwarna kuning bening dengan bobot seribu butir sekitar 26,2 gram.

‎Selain hasil panen yang stabil, tingkat kerontokan Padi Abai juga tergolong kecil, sehingga banyak petani mempertahankannya sebagai varietas andalan. Meski memiliki banyak keunggulan, Padi Abai tetap memiliki beberapa kelemahan.

‎Tanamannya yang tinggi membuatnya rentan rebah, terutama saat hujan deras atau angin kencang. Bobot gabahnya pun sedang, sehingga perlu penanganan pascapanen yang baik agar kualitas beras tetap terjaga.

‎Padi Abai dipandang strategis untuk dikembangkan sebagai beras khas Malinau. Melalui penerapan sistem budidaya organik, penguatan merek lokal, dan dukungan kebijakan dari pemerintah desa, varietas ini berpeluang menjadi beras premium yang memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengangkat citra pertanian daerah.

 

Bacaan Lainnya

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Malinau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *