Sinergi Konservasi TNKM dan Pemberdayaan Adat di Krayan ‎

Kunjungan ke Krayan.
Kunjungan Kepala TNKM ke Krayan, Kabupaten Nunukan, perkuat kolaborasi jaga kelestarian kawasan konservasi.

‎Lensantara.com : Upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi di perbatasan Indonesia–Malaysia kembali ditegaskan melalui kunjungan Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Seno Pramudito, ke wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan.

‎Kunjungan ini bertujuan memperkuat sinergi antara pengelola kawasan konservasi dan pemerintah kecamatan yang wilayahnya bersinggungan langsung dengan hutan lindung.

‎Dalam agenda tersebut, Seno didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan. Keduanya bertemu dengan Camat Krayan, Ronny Firdaus, di Kantor Kecamatan Long Bawan.

‎Pertemuan ini menjadi wadah koordinasi untuk membangun pemahaman bersama mengenai pengelolaan kawasan TNKM yang sebagian besar berada di wilayah Krayan dan sekitarnya.

‎Taman Nasional Kayan Mentarang sendiri memiliki luas 1.272.094,62 hektare, dengan 272.930,16 hektare di antaranya berada di Kabupaten Nunukan. Kawasan itu mencakup enam kecamatan, mulai dari Krayan hingga Lumbis Hulu, yang sebagian besar merupakan wilayah adat dengan ketergantungan tinggi terhadap hutan.

‎Dalam dialog tersebut, Seno menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut, kolaborasi dengan pemerintah kecamatan menjadi kunci agar perlindungan kawasan konservasi tidak berjalan sendiri tanpa melibatkan masyarakat lokal.

‎“Kami ingin pengelolaan kawasan ini juga memberi manfaat bagi masyarakat adat di sekitar TNKM,” ujarnya, yang ditanggapi Camat Krayan Ronny Firdaus menyampaikan dengan apresiasi atas kunjungan tersebut.

‎Ia berharap komunikasi yang sudah terjalin dapat ditingkatkan menjadi bentuk kerja sama konkret dalam program berbasis pemberdayaan masyarakat adat.

‎“Kami berharap Balai TNKM lebih intens memberikan program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat di sekitar kawasan. Prinsipnya, masyarakat adat di Krayan siap menjadi mitra dalam menjaga hutan,” ucap Ronny.

‎Pengelolaan TNKM diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek perlindungan alam, tetapi juga mampu menjadi model pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan kearifan lokal dan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *