Lensantara.com, Malinau – Limbah biomassa dan bahan lignoselulosa yang tersedia di sekitar masyarakat Desa Punan Mirau, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, mulai diarahkan untuk memiliki nilai guna melalui teknologi pirolisis yang diperkenalkan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Teknologi tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Bottom-Up ITB yang didanai Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, dengan melibatkan Dinas Kehutanan, UPTD KPH Malinau, dan KKI Warsi.
Ketua tim PkM ITB, Dr. Ir. Anne Hadiyane, mengatakan teknologi pirolisis diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan untuk memanfaatkan biomassa dan limbah lignoselulosa yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Melalui teknologi tersebut, biomassa dapat diolah menjadi biochar dan asap cair yang memiliki nilai guna untuk mendukung kegiatan pertanian maupun kehutanan.
“Teknologi yang diberikan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai dengan potensi lokal,” ujar Anne.
Menurutnya, pemanfaatan biomassa melalui pirolisis tidak hanya berkaitan dengan pengurangan limbah. Teknologi tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sumber daya yang tersedia di sekitar desa menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan produktif.
Pendekatan serupa diterapkan melalui pengolahan bahan organik menjadi kompos dan pupuk organik cair (POC). Bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diarahkan untuk kembali dimanfaatkan sebagai input dalam kegiatan pertanian.
Selain teknologi pengelolaan biomassa, tim ITB juga memperkenalkan teknik inokulasi gaharu melalui injeksi. Penguasaan teknik tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan gaharu sebagai salah satu komoditas hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi.
Pengembangan potensi lokal kemudian dilengkapi dengan pendampingan budidaya tanaman dan ikan. Diversifikasi tersebut diarahkan untuk memperkuat sumber pangan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.
Kepala UPTD KPH Malinau, Antonius Mangiwa, mengatakan pemanfaatan teknologi dan peningkatan keterampilan masyarakat menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi kelompok Perhutanan Sosial.
“KPH Malinau menyambut baik dan mendukung kolaborasi yang terbangun melalui Program Desanesha ITB di Desa Punan Mirau. Program ini menjadi salah satu bentuk sinergi yang sangat penting dalam memperkuat kapasitas masyarakat Perhutanan Sosial, tidak hanya dalam aspek pengelolaan kawasan, tetapi juga dalam pengembangan usaha dan peningkatan ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Project Officer KKI Warsi, M. Nur Huda, mengatakan penerapan teknologi akan menjadi fokus pendampingan setelah kegiatan pelatihan. Masyarakat akan didampingi dalam mempraktikkan pembuatan biochar, asap cair, kompos, pupuk organik, inokulan gaharu, budikdamber, serta budidaya tanaman.
Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari pelaksanaan pelatihan, tetapi dari kemampuan masyarakat mengadopsi pengetahuan tersebut dan mengembangkannya secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa pelatihan yang telah diberikan tidak berhenti menjadi pengetahuan semata. Pendampingan akan terus dilakukan untuk memperkuat kelembagaan kelompok, mendukung praktik di lapangan, mengidentifikasi peluang usaha, hingga mendorong akses pasar bagi produk yang dihasilkan masyarakat,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, teknologi pengelolaan biomassa diharapkan tidak hanya membantu mengurangi limbah di Desa Punan Mirau, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal secara produktif.
Pendekatan ini sekaligus diarahkan untuk mendukung masyarakat mengembangkan potensi ekonomi tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan lingkungan dan kawasan hutan.






