Peternak Malinau Minta Rantai Pemasaran Telur Lokal Diperkuat

Peternakan ayam petelur di Desa Tanjung lapang, Malinau Barat.
Peternakan ayam petelur di Desa Tanjung lapang, Malinau Barat. FOTO : Lensantara

Lensantara.com, Malinau – Persoalan peternakan ayam petelur di Kabupaten Malinau tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi. Setelah telur dihasilkan, peternak masih dihadapkan pada persoalan lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana memastikan seluruh produksi terserap pasar.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Heru, peternak ayam petelur di Desa Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat. Selama sekitar empat tahun menjalankan usahanya, Heru kini memiliki sekitar 1.200 ekor ayam dengan produksi rata-rata mencapai 80 persen.

Bacaan Lainnya

Dari jumlah tersebut, produksi telur mencapai sekitar 1.050 butir per hari. Namun seluruh hasil produksi masih dipasarkan secara mandiri, mulai dari konsumen rumah tangga, kios hingga warung sembako.

Bagi Heru, pola tersebut membuat peternak harus menghadapi dua pekerjaan sekaligus, yakni menjaga produksi dan mencari pasar. Tidak adanya agen atau distributor khusus membuat harga dan distribusi harus ditentukan sendiri oleh peternak.

“Kalau mandiri semua ini kan kita nanti agak susah. Susah menentukan harga, susah memasarkan,” ujar Heru.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika telur lokal harus berhadapan dengan produk dari luar daerah yang telah memiliki jaringan pemasaran melalui agen.

Kondisi itu membuat Heru berharap distribusi telur lokal juga dapat dibangun melalui jaringan pemasaran yang lebih terorganisasi. Menurutnya, keberadaan agen khusus telur lokal dapat membantu peternak menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memberikan kepastian penyerapan produksi.

“Kalau telur luar kan punya agen sendiri. Siapa tahu telur lokal ini bisa dibuatkan agen atau bagaimana untuk menyebarkan produk lokal ini,” katanya.

Heru menilai penguatan pemasaran sebaiknya tidak diarahkan pada persaingan antarpeternak lokal. Sebaliknya, para produsen telur lokal perlu memiliki wadah bersama agar dapat menghadapi persaingan dengan produk dari luar daerah.

“Yang penting kita bersaing dengan produk luar daripada kita sesama produk lokal,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap jaringan pemasaran tersebut semakin penting karena telur merupakan produk pangan yang dihasilkan setiap hari. Artinya, peternak membutuhkan pasar yang mampu menyerap produksi secara rutin, bukan hanya ketika permintaan sedang meningkat.

Heru berharap perhatian terhadap pengembangan peternakan ayam petelur di Malinau tidak berhenti pada peningkatan produksi. Menurutnya, dukungan terhadap pemasaran dan distribusi menjadi bagian penting agar usaha peternakan lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dengan rantai pemasaran yang lebih terorganisasi, peternak berharap telur produksi Malinau tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga memiliki posisi yang lebih kuat dalam persaingan dengan produk telur dari luar daerah.

Pos terkait