LENSANTARA.COM, Malinau – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Malinau menyikapi secara positif keluhan warga mengenai layanan di Puskesmas Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, yang sempat terekam dalam video dan beredar luas di media sosial.
Pihak dinas bersama perwakilan kecamatan memberikan klarifikasi lengkap terkait kondisi yang ada di lapangan.
Tanggapan Dinkes Malinau: Obat Aman dan Langkah Perbaikan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau, Yuli Triana, menyampaikan bahwa seluruh kritik dari masyarakat diterima sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Namun menurut Yuli, ada beberapa poin penyampaian warga yang tidak seratus persen benar.
Yuli menekankan bahwa stok obat tersedia. Penyaluran obat ke Puskesmas Long Sule dilakukan berdasarkan mekanisme LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat).
“Secara prinsip kami melihat kritik ini secara positif. Mengenai ketersediaan obat, sebenarnya stok kita tidak kosong. Keluhan obat kosong yang disampaikan dalam video tersebut merupakan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya,” jelas Yuli.
Namun ia mengakui poin terkait kurangnya tenaga kesehatan, terutama dokter, yang menyebabkan kurang maksimalnya layanan kesehatan di wilayah pedalaman dan perbatasan.
“Memang benar dokter kita tidak ada di sana, kalau perawat, bidan, apoteker, kesling, nakes kita ada, bukan benar-benar kosong, hanya memang terbatas, dan ini bukan hanya di perbatasan, di kota juga kita kekurangan,” ucapnya.
Mengenai keterbatasan tenaga kesehatan (nakes), Yuli menjelaskan bahwa beberapa perawat dan bidan saat ini sedang menempuh pendidikan profesi (Ners) yang difasilitasi oleh Pemda lewat Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP).
Langkah ini wajib dilakukan untuk memenuhi regulasi Kementerian Kesehatan tahun 2027 yang mewajibkan kepemilikan sertifikat profesi bagi nakes yang melayani pasien secara langsung.
Guna mengatasi keterbatasan nakes dan ketiadaan dokter di wilayah pedalaman, Dinas Kesehatan menetapkan beberapa langkah konkrit:
- Sistem Rolling Dokter: Menyiapkan perputaran tugas dokter setiap 3 bulan agar pelayanan di wilayah perbatasan terisi secara bergantian tanpa membebankan dokter dalam jangka waktu yang terlalu lama.
- Penambahan Nakes Lokal: Mengembalikan perawat asal Desa Long Sule yang sebelumnya bertugas di Long Berang untuk kembali bertugas di desa asalnya.
- Usulan Program Nusantara Sehat (NS): Rutin mengusulkan tenaga kesehatan lengkap (dokter umum, dokter gigi, apoteker, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, dan laboratorium) ke Kementerian Kesehatan setiap tahunnya.
Penjelasan Perwakilan Kecamatan: Klarifikasi dan Permohonan Maaf
Senada dengan Dinkes, Kepala Koordinator Perwakilan Kecamatan Kayan Hilir di Long Sule, Marjem Anye, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggelar mediasi bersama Bhabinkamtibmas, pemerintah desa, nakes lokal, orang tua, dan warga yang membuat video tersebut.
Menurut Marjem, Rama telah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui bahwa narasi video tersebut dibuat saat dalam keadaan emosi karena melihat anaknya yang sedang sakit.
“Rama sudah menyampaikan permohonan maaf. Informasi yang disampaikan mengenai kekosongan obat sebenarnya adalah kejadian 2 hingga 3 tahun yang lalu, bukan kondisi saat ini. Di puskesmas, stok obat tersedia, bidan dan apoteker ada, walau kami akui memang dokter belum ada dan jumlah perawat masih kurang,” terang Marjem.
Marjem menambahkan bahwa pemerintah daerah dan puskesmas terus berupaya membuka formasi CPNS maupun PPPK untuk berbagai posisi nakes. Namun, formasi tersebut sering kali sepi pelamar karena kendala akses geografis yang cukup jauh. Pada seleksi sebelumnya, sempat ada pelamar posisi dokter, tetapi tidak lolos nilai ambang batas (passing grade).
Konteks Keluhan Warga dan Aksesibilitas
Polemik ini bermula dari beredarnya video yang menampilkan Rama, warga setempat yang berbicara mewakili masyarakat Desa Long Sule dan Desa Long Pipa. Rama mengeluhkan kondisi dua anaknya yang tak kunjung sembuh serta menyampaikan kekhawatiran warga yang kerap harus dirujuk ke ibu kota Malinau tanpa biaya transportasi yang memadai.
Kepala Desa Long Sule, Jarot Irei, sebelumnya membenarkan adanya keluhan terkait keterbatasan fasilitas dan tenaga medis di wilayahnya. Menurut Jarot, video tersebut dibuat warganya sekitar tiga pekan lalu.
Desa Long Sule sendiri berada di kawasan Apau Kayan dan hanya dapat diakses dari pusat Kabupaten Malinau menggunakan penerbangan perintis yang dijadwalkan dua kali dalam sepekan.






