Lensantara.com : Padi Langsat dikenal sebagai salah satu varietas lokal khas Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Jenis padi ini sudah dibudidayakan sejak tahun 1990 dan termasuk dalam kelompok padi cere atau padi kering.
Masyarakat menanamnya baik di lahan tadah hujan maupun di sawah beririgasi sederhana, terutama di wilayah Malinau Seberang, Sempayang, Sesua, Setulang, Lidung Keminci, hingga Pulau Sapi.
Secara fisik, tanaman padi Langsat memiliki tinggi sekitar 135 sentimeter dengan batang tegak dan daun berwarna hijau kekuningan. Waktu panennya sekitar 150 hari setelah tanam.
Dalam satu malai terdapat sekitar 296 gabah, dengan ukuran sedang dan warna gabah kuning cerah. Berat 1.000 butir gabahnya mencapai sekitar 33 gram, dan hasil panennya bisa mencapai 5–6 ton per hektare.
Selain produktivitasnya yang cukup baik, keunggulan lain padi Langsat terletak pada kualitas rasa berasnya. Nasinya dikenal pulen dan memiliki aroma khas yang disukai masyarakat.
Bobot gabah juga tergolong berat, dan tingkat kerapatan malai cukup stabil. Meski begitu, varietas ini memiliki kelemahan pada panjang malai yang relatif pendek dan hasil panen yang masih di bawah beberapa varietas unggul modern.
Padi Langsat memiliki nilai strategis bagi masyarakat Malinau karena menjadi bagian dari identitas pertanian daerah dan mendukung ketahanan pangan lokal. Potensinya juga besar untuk dikembangkan menjadi beras premium khas Malinau, sejalan dengan tren konsumen terhadap produk lokal berkualitas.
Padi Langsat berpeluang terus dipertahankan sebagai varietas unggulan khas Malinau. Selain menjaga keberagaman genetik tanaman, pelestarian padi ini juga memperkuat upaya menjaga tradisi bercocok tanam yang diwariskan secara turun-temurun di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Malinau.






